Sulk OTL

Posted: January 13, 2011 in Iseng-iseng

…What a really.. really tough days… (“_ _)

Yah beginilah jadi anak kelas 3 yang akt–semi aktif ikutan organisasi (jadi koor divisi gadungan) dan kepepet sama tugas lain (baca: sekolahsekolasekolah dan main) dan juga masalah pribadi yang bikin mood saya jadi njut-njutan (?) kaya kuda lumping yang lagi makan beling… tapi nggak pake emping… *garing mode: on*

Nyu… masalah utama adalah penyakit tidur saya yang makin parah ini… sekarang frekuensi ketiduran di kelasnya semakin lama jadi semakin sering… kata bu wali kelas sih, itu karena hemoglobin saya rendah… hm.. semoga aja bisa diatasi dangan banyak-banyak makan ati (udah keseringan makan ati sebetulnya–) dan makan sayur bayem… (..kalo kangkung malah makin kenceng tidur melulunya =)) )

Info ga penting lain… saya mainin P3P hingga saat ini dengn total playtime 45 jam kebih dikit dalam waktu 8 hari… (ada yang full, ada yang nggak full seharian) dan sumpah! Fan service buat para fangirl (jika bermain sebagai MC cewek) bener-bener banyak dan nampol banget!! (Apalagi Akihiko, dia paling banyak…) Meski parental guidenya ampe level 9 (saya nggak tau level maksimalnya berapa; tapi kalo segini kayaknya masuknya ke M-Rated games deh… berhubung serial-serial sebelumnya juga kurang lebih sama) tapi tetep aja… nggak sampe separah Panty & Stocking with Garterbelt yang udah amat sangat eksplisit seperti itu…

..yang jelas setelah lihat Ryoji di P3P ini (kalo di P3 dia selalu terlihat ceria; nggak nyangka kalo sama female MC dia bakal jadi sesedih itu), saya jadi sering patah hati melihat dia..bersedih… dan akhirnya juga…nggak terlalu bagus… ah, yang namanya angst/hurt memang seperti ini, ya… *huft*

Ada banyak harapan yang ingin kuucap..namun khawatir akan membuatnya menjadi buruk… (“_ _)

It’s not easy to become an introvert, y’know… hope someday I’ll meet someone who.. who… care ’bout me and… *sigh* I dunno what to say again… I just… kinda.. feel..so.. lonesome… just.. it…

Draft Fanfiction

Posted: October 26, 2010 in Uncategorized

(Day Zero, The Rusty Heart Paralyzed Slowly)

Awan mendung kembali menaungi langit sore kota Inaba, sementara burung-burung terlihat sedang gesit mengepakkan kedua buah sayap mereka, berkelok, menukik dengan tajam dan indah, mencari tempat berlindung atau kembali menuju sarang-sarang mereka dengan tergesa. Mereka berharap agar bulu-bulu sayap milik mereka tidak basah terkena bulir-bulir air yang mulai menghantam bumi secara serentak itu, satu per satu. Seolah memeriahkan suasana langit, gema guntur ikut andil dalam menghiasi langit kelabu dengan ritmenya yang khas serta tak terprediksi, disusul oleh atraksi sang kilat yang tak mau kalah meramaikan pemandangan langit pada sore itu.

Ya, sang hujan kini telah kembali membasahi tanah Inaba. Menjatukan tetes-tetes air yang terkumpul dari seluruh penjuru, lalu jatuh dan meresap ke dalam tanah, atau mengalir ke sungai-sungai dan kembali menuju laut, menguap, membentuk awan-awan mendung baru, begitu seterusnya. Terus berulang-ulang, berputar, tak pernah berhenti. Sebuah siklus yang tak seorang pun mampu mengubahnya, atau bahkan mengusiknya.

(Begitu pula dengan kehidupan dan kematian.)

Awan gelap. Rintik air. Bau tanah. Semilir angin. Serangkaian kata tersebut tak mampu mendeskripsikan sosok sang anugerah langit. Hujan yang membawa anugerah kehidupan. Menumbuhkan pohon-pohon. Mengairi sawah-sawah. Melindungi mereka dari ancaman kematian (sebab tanpa air; seluruh makhluk hidup pasti akan mati—).


Hujan (memang) tak pernah mengenal ampun, ia akan mengguyur apa pun yang berada di bawahnya, tanpa terkecuali. Begitu pula seorang gadis remaja berusia enam belas tahun yang sedang berlari di bawahnya. Berusaha untuk melindungi dirinya dari serbuan butiran-butiran kecil air tersebut dengan tas sekolah miliknya. Ia menggerutu, menyesal dalam hatinya mengapa ia tidak melihat ramalan cuaca pagi tadi. Sebagai konsekuensinya, gadis itu harus menerima bahwa dirinya harus pulang dalam keadaan basah kuyup, menikmati (lebih tepatnya; sama sekali tidak menikmati) udara sedingin es yang seolah menusuk hingga ke sumsum. Kondisi seperti sini sama sekali tak menyenangkan. Belum lagi kemungkinan bahwa buku-buku pelajaran, peralatan sekolah, serta benda-benda lain miliknya yang tersimpan dalam tas, ikut basah oleh rembesan air hujan yang masuk melalui sela-sela tas yang kini ia gunakan untuk melindungi kepalanya itu. Dan—

Perlahan. Gadis itu mengurangi kecepatan larinya. Berlari pelan, berhenti. Terpaku, membisu.

Matanya lurus menangkap sepasang sosok manusia (yang sangat ia kenali, sangat jelas sekali), yang sedang berjalan berdampingan, tengah berlindung dari sang hujan, di bawah satu payung yang sama.

.

.

.

….kau pasti tahu, bukan?

Bahwa aku mencintaimu…


(Day One, “I Want You To Look Only At Me,“)

“..Ha—HATCHI!!!”

“Pssst…! Jangan berisik!!!” Omel seorang petugas perpustakaan, menegur seorang murid yang bersin terlampau keras. Sementara itu, sang murid yang dimaksud mendengus sebal. Kan tidak sengaja.

Tanpa mempedulikan tatapan awas dari petugas tersebut, murid itu kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya yang sempat terganggu barusan: menyalin beberapa bagian isi buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Serius tetapi hati-hati, ia kembali menggoreskan lembar putih miliknya dengan pensil mekanik (dengan desain yang sangat manis), terfokus tanpa melepaskan pandangannya barang sepersekian detik pun dari buku yang ada dalam genggaman tangannya tersebut. Setelah dirasa sudah selesai mencatat semua data yang ia perlukan, murid tersebut menutup buku yang ia pinjam itu dengan puas, lalu mengembalikan buku tersebut ke tempatnya semula. Kemudian ia segera berjalan keluar dari ruang perpustakaan itu. Riang, bersenandung sambil berlari-lari kecil, lalu menutup pintu perpustakaan dengan menyisakan derit yang sedikit memekakkan telinga (sebetulnya meski ditutup secara perlahan pun, pintu tersebut tetap akan menimulkan bunyi yang kurang menyenangkan), disusul oleh geraman marah sang petugas perpustakaan yang kesal karena murid itu terlalu sering membuat suara-suara gaduh yang tak diperlukan.


Hari kedua sejak terakhir kalinya hujan menghampiri langit Inaba, cahaya jingga menyelimuti seluruh pelosok kota. Tampaknya sore ini awan mendung kembali tak menampakkan dirinya—entah karena ia sedang berbaik hati dengan mengalah pada sang matahari, mempersilahnya merajai langit sepanjang pagi hingga sore, atau sang awan sedang malas menyirami tiap sudut kota kecil tersebut. Sedang tak ingin menurunkan anugerahnya pada bumi. Entahlah, yang jelas tidak ada satu pun yang dapat menghentikan gejolak penuh semangat seorang gadis belia yang hendak berbelanja di sebuah toko swalayan terbesar yang ada di kota tersebut. Apa lagi kalau bukan Junes? Nyaris seluruh bahan-bahan tersedia di sana. Mulai dari habanero sampai durian. Segala macam ada.

Tak perlu waktu yang lama bagi sang gadis untuk mengumpulkan seluruh bahan yang ia butuhkan; daging ayam, telur, jamur shitake, udang, kedelai dan lain sebagainya. Seorang Rise Kujikawa tak perlu menghabiskan waktu hingga 30 menit sampai satu jam hanya untuk berkeliling atau memilah-milah bahan, sebab gadis yang sedang kasmaran itu sudah tidak sabar lagi untuk pulang, mempraktekkan apa yang telah ia pelajari pada hari sebelumnya.

Kemarin sore Rise meminta izin kepada neneknya untuk meminjam dapur. Sang nenek mengangguk memberi izin. Bahkan sampai menyiapkan segala peralatan dapur yang mungkin saja diperlukan oleh cucuk semata wayangnya itu. Ah, seorang nenek yang baik hati, secarik kertas berisi resep handalan (yang baru saja kemarin ia catat dari buku resep yang ia temukan secara kebetulan dalam perpustakaan—ternyata perpustakaan sekolah tidak buruk juga, hanya saja petugasnya terlalu cerewet, begitu pikirnya), bahan-bahan yang sudah siap dalam genggaman tangan, kesempatan yang baik, semuanya terasa begitu mendukung. Adakah yang masih terasa kurang dari semua itu, hm?

(Ah, rasanya sudah tak sabar lagi ingin segera pulang dan mulai memasak dengan seluruh kemampuan, penuh cinta, dan dengan segenap perasaan…)

Sepatu yang Rise kenakan berkali-kali menyentuh jalanan aspal. Kedua tangannya penuh membawa beberapa kantung plastik belanjaan. Senyum mengembang di wajahnya. Sementara rona merah merekah, menghiasi pipinya. Manis. Sungguh menyenangkan melihat wajah Rise yang seperti itu. Begitu gembira bagaikan seorang anak kecil yang dibelikan mainan baru. Atau melihat sebuah toples yang penuh oleh permen dan cokelat. Atau mendapatkan seekor anak anjing yang lucu.

Hanya tinggal beberapa toko lagi hingga ia sampai di rumahnya; sebuah toko yang secara khusus menjual tofu dan produk lain sejenisnya. Setelah melewati toko buku dan toko senjata, maka ia akan tiba di tempat tujuannya…

—tunggu dulu sebentar.

(..itu… bukankah mereka…)

Entah mengapa, muncul perasaan ganjil dalam relung hati Rise, ketika ia melihat dua orang yang begitu ia kenal dekat (yang secara kebetulan ia lihat pula dalam perjalanan pulangnya pada dua hari yang silam di saat hujan), sedang bersama-sama di depan kotak pos merah yang terletak di depan toko milik Daidara…

(…dan kelihatannya, mereka berdua terlihat begitu dekat…)

Tak ada pikiran yang membersit. Gadis itu hanya memperkuat genggaman pada kantung plastik belanjaannya. Menimbulkan bunyi gemirisik kecil yang tak berarti. Tanpa berkomentar apa-apa, ia kembali melangkah secara teratur menuju rumahnya. Berjalan lurus.

Diam.

.

.

.

…kau juga pasti tahu, bukan?

Kalau aku benar-benar serius padamu…


(Day Two, Can’t Be Said So Straightforward…)

Bukan Rise Kujikawa namanya, kalau ia mudah menyerah begitu saja.

Ya, kini Rise menggenggam kotak bekal yang semalaman ia siapkan setelah sempat gagal dua-tiga kali membuatnya. Ternyata membuat chawan musi sedikit merepotkan juga, pikirnya. Ah, tapi yang penting akhirnya ia berhasil juga membuatnya. Toh kini yang perlu Rise lakukan hanyalah melaksanakan beberapa prosedur sederhana, seperti berikut ini (yang kalau disingkat, bisa jadi 4M):

  1. Menunggu dengan tenang dan sabar bunyi bel istirahat siang meraung-raung di seluruh penjuru sekolah,
  2. Menghampiri kelas 2-2,
  3. Mengajak Souji untuk makan siang, lalu
  4. Makan bersama.

Pekerjaan yang sangat simpel, bukan?

Hati gadis itu meluap-luap, tak sabar menantikan kejadian yang akan ia alami dalam beberapa menit ke depan. ‘Aduh, kira-kira apa yang akan dikatakan senpai nanti? Bagaimana perasaannya? Kira-kira ia akan suka dengan masakan buatanku tidak, ya? Kalau ya, artinya Rise sukses membuat batu loncatan yang besar…! Kesempatanku untuk semakin dekat dengannya pasti akan semakin besar, ehehe. Ah, rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu bel istirahat berbunyi…. Huh, rasanya lama sekali. Jangan-jangan belnya rusak…? Ah, itu tidak mungkin…’ Begitulah kira-kira isi hati gadis berkuncir dua tersebut. Hampir seluruh pikirannya dipenuhi oleh harapan-harapan yang terus menyemangatinya dirinya dari dalam, setidaknya hingga detik ini (yang membuatnya selalu mencoba untuk bertahan, menjadi seorang gadis tangguh seperti sekarang ini, meski sebetulnya ia telah penuh luka dan darah)…

Menunggu bel berbunyi selama lima menit bagi Rise rasanya bagaikan menunggu selama berjam-jam. Akhirnya bunyi yang paling ingin Rise dengarkan saat itu terdengar juga. Terdengar sangat jelas, memenuhi seluruh ruangan yang ada di sekolah itu dengan suara nyaringnya.

“Baiklah anak-anak, bapak tutup pelajarannya sampai di sini. Jangan lupa kerjakan soal nomor 45 sampai 49 pada halaman 76, minggu depan akan bapak periksa. Sampai jumpa semuanya, selamat siang!”

Setelah seluruh murid mengucapkan salam dan memberikan hormat pada guru tersebut, ruang kelas 1-2 mulai terdengar riuh. Sibuk dengan urusan masing-masing. Tak terkecuali Rise yang sudah sangat menantikan saat ini bahkan sejak semalam. Waktunya sudah pas, persiapannya juga sudah matang. Semuanya oke.

Kini ia hanya perlu berjuang sekali lagi—perjuangan terakhir, yang akan menentukan segalanya. Oleh karena itu, ia tidak boleh gagal. Sama sekali tidak. Tidak ada konsekuensi, tidak ada keringanan, tidak ada ampunan. Sebab jika ia gagal, maka habislah sudah. Sama sekali tidak ada pengulangan waktu—hidup tidak sama seperti video game yang bisa terus diulang dan diulang jika kita salah melangkah, bukan? Oleh karena itu, satu buah kesalahan sama sekali tak dapat ditolerir. Itulah motivasi yang Rise tanamkan pada dirinya sendiri. Kini tekadnya sudah mengeras bagai sekeping baja.

…Tapi, apakah itu tidak sedikit berlebihan bagimu, Rise?


Rise berdiri mantap. Ia sudah berada di depan kelas 2-2 sekarang. Tangan kiri menggenggam erat kotak bekal, sementara tangan kanan memegang ujung pintu. Tanpa perlu membuang waktu, ia menggeser pintu itu. Melangkah masuk, fokus dengan misinya. Dengan cermat matanya menyisir seluruh ruangan kelas, namun hanya dalam hitungan kurang dari satu detik, Rise sudah tahu kalau target yang ia cari tidak tertangkap dalam radar penglihatannya. Kemana Souji pergi…?

“Yo, Rise. Ada apa?” sapa Yosuke begitu melihat gadis yang berada satu angkatan di bawahnya itu menghampirinya.

Rise tidak mau berbasa-basi. Langsung saja. “Oh, apa ada yang melihat dimana Souji-senpai?” tanyanya langsung ke intinya.

“…Souji? Baru saja dia keluar… apa kalian tidak berpapasan ketika di jalan barusan?” intonasi suara Yosuke menunjukkan bahwa dirinya… positif sedang keheranan. Baiklah, partnernya yang satu itu memang nyaris sempurna. Cerdas, berani, gagah, ekspesif, pengertian. Oh, apa masih ada kelebihan-kelebihan lain dari Souji Seta, yang oleh seorang Yosuke Hanamuraselaku sahabat terdekatnyatidak ketahui, eh? Misalnya kemampuan untuk muncul dan menghilang dalam sekejap, atau menaklukkan hati para gadis dengan mudah…? (Jika Chie mengetahui pikiran Yosuke yang tidak masuk akal ini, mungkin saja ia sudah diejek habis-habisan, atau setidaknya ditertawai… bahkan mungkin Yukiko pun akan ikut menertawainya…

…hei, mengapa arah pembicaraannya menjadi semakin tidak jelas seperti ini?)

Rise hanya menggeleng pelan. Kalaupun tadi ia berpapasan dengan Souji, mana mungkin ia akan bertanya kepada Yosuke perihal keberadaan sang murid beriris kelabu tersebut.

Namun insting Rise sebagai wanita seketika bekerja. Perasaannya mulai berkata, membisikkan sesuatu. Dan pikirannya mengangguk mengerti.

Sudah cukup. Semuanya sudah selesai. Ia tidak mau mendengar apa-apa lagi. Tidak mau tahu apa-apa lagi. Kesempatan terakhir itu telah hilang. Lenyap. Tamat.

(Sebab ia tahu, pasti saat ini Souji sedang bersama gadis itu…)

.

.

.

…kenapa?

Apa yang kurang dari diriku…?


(Day Three, This Crooked Love is Ending…)

Pukul dua belas tengah malam. Rise terjaga. Murung. Merasa lelah dengan segalanya. Dengan segala yang ia lihat. Dengan segala yang ia alami. Dengan segala yang ia rasakan.

Perlahan, tiap keping ingatannya kembali melintas dalam kepalanya. Merefleksikan memorinya. Berputar bagai gulungan pita film.

Dulu, ketika ia pertama kali bertemu dengan Souji. Dulu, ketika ia diselamatkan oleh Souji dan teman-temannya. Dulu, ketika ia berkata dengan tegas pada Naoto bahwa dialah yang menganggap semua ini—kasus pembunuhan dan penculikan misterius yang terjadi di Inaba—adalah sebuah permainan. Dulu, ketika akhirnya mereka semua tahu bahwa Naoto adalah seorang perempuan. Dulu, ketika ia mengintip hasil tes kesehatan milik Naoto (dan mengetahui sesuatu yang membuat dirinya cukup terkejut). Dulu, ketika ia bertanya kepada Souji apakah Kanji dan Naoto cocok apabila dijadikan sepasang kekasih.

Dulu, ketika ia melihat Souji dan Naoto sedang makan siang bersama di atap sekolah. Dulu, ketika ia melihat Souji dan Naoto pulang di bawah satu payung yang sama. Dulu, ketika ia melihat Souji dan Naoto berdiri di depan kotak pos berdua. Dulu, ketika ia secara tidak sengaja melihat Souji dan Naoto yang sedang berada di Samegawa Riverbank, dan mendengar semua pengakuan itu.

“Aku bersyukur bahwa kau seorang wanita.”

…Tunggu dulu sebentar; kejadian tadi sore juga termasuk dulu, bukan?

Kejadian yang (baru saja) sore tadi Rise saksikan begitu melekat dalam ingatannya. Sangat jelas. Bagaikan melihatnya kembali secara langsung. Seolah masih di depan mata.

Souji. Berkata. Seperti. Itu. Kepada. Dia. Gadis. Itu. Naoto.

Oh, ayolah. Tak perlu memiliki otak sejenius Albert Einstein untuk menyadari betul apa yang barusan pemuda tersebut katakan. Bahwa apa yang baru saja Souji ungkapkan, adalah… sebuah… rambu…

…bahwa pemuda itu menyukai gadis itu. Naoto. Gadis bertubuh mungil dengan topi biru. Seorang gadis maskulin bermarga Shirogane. Sang Detective Prince yang sebetulnya adalah seorang wa-ni-ta. Yap, penekanannya ada pada kata wa-ni-ta.

Rise meremas bantal tidurnya. Cemburu. Kesal. Benci

Ia begitu membenci semuanya. Naoto. Souji. Tatapan mereka terhadap satu sama lain. Tingkah mereka saat keduanya sedang bersama. Intonasi suara mereka saat mereka saling bicara. Ekspresi mereka saat sedang berada di dekat masing-masing. Semuanya sempurna sudah.

Pintu hati pemuda tersebut telah tertutup rapat. Telah dihuni oleh gadis lain. Telah dipenuhi oleh bayang-bayang sosok itu. Gadis itu. Naoto Shirogane. Yang berpakaian seperti anak laki-laki.

Oh, tidak. Tidak. Tanpa sadar pikiran Rise berjalan terlalu jauh. Ini tidak benar, Rise berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri. Tidak. Ia tidak boleh dikuasai oleh rasa cemburunya terhadap Souji dan Naoto. Ia tidak boleh dikuasai oleh perasaan tidak sukanya terhadap mereka berdua…

—tunggu dulu sebentar.

(… kenapa aku jadi begini?)

Semakin larut, perasaan Rise berubah semakin ganjil.

.

.

.

…apa kau tidak tahu,

seperti apa rasa sakit yang selama ini kupendam?


(Day Four, As The Darkness Deepens)

Rise tidak tahu; Rise tidak pernah paham.

Ia tidak menyadari bahwa rasa putus asa dan kekecewaannya yang besar dan terus menumpuk itu berubah menjadi kebencian.

_TBC_


SIAL! Masih banyak yang cacatnya… orz

Art Dump

Posted: October 26, 2010 in Uncategorized

..Hanya sekumpulan tiga gambar ngga guna

Uhm… yang ini dikerjainnya nggak nyampe sejaman…

..Kalo yang ini, sekitar dua jaman lebih….

…Ini ngerjainnya pas lagi pelajaran bahasa Indonesia; ngegambar di belakang gurunya….

Too Bad…

Posted: October 14, 2010 in Uncategorized

Yah–intinya aku ini manja dan cengeng dan kekanak-kanakan dan–huft… hampir selalu berpikiran negatif dan cenderung introvert dan lumayan masokis tapi rada-rada psikopat juga… dan juga… muka dua/agen ganda…?

*sigh*

Well, another (really) tiring day for me… =_= Seperti biasa, akhir-akhir ini juga ga ada kejadian yang benar-benar bagus… entah kenapa rasanya nyebelin semua… (..entah emang nyebelin atau cuma perasaanku aja, sih…)

Hmmm, baiklah… lagi-lagi aku kena artblock, masih belum sembuh dari writeblock… kantong kempes, uts berantakan, kurang tidur, jarang makan, susah minum, kaki keseleo ga sembuh-sembuh… kaset P4 masih ga kebaca di PS2… terus… luka hati masih belum sembuh… hah, ya ampun.  -___-

…huft, baiklah… yang berlalu biarlah berlalu..lagi pula, toh masalah-masalah di atas cuma masalah kecil  sehari-hari yang ga ada apa-apanya (kecuali yang terakhir)… hmhm, lama-lama jga pasti terbiasa sama semua ini…

Tapi masih ada satu hal yag bener-bener ngeganjal, yang bikin aku sakit kepala terus… inginnya kutulis sekalian aja di sini, sekalian ngeluarin uneg-uneg… tapi, entah kenapa..rasanya agak mengganjal…. – -a Habisnya sering banget saya mempermasalahkan masalah yang satu ini nyaris kemana-mana… T_T Makanya…aku mau berhenti berlebihan….

..udah ah, aku ngegaje lagi nih kan ya..jadinya… (“_ _)

Primrose

Posted: July 21, 2010 in Iseng-iseng

Disclaimer: Persona 4 © ATLUS

Warning: Junkfic, Chara’s Death, Boring.

Primrose © Miyashita Kuroka


Kau terpaku

Kau membuka pintu

Lalu kau mendapati

Tubuh yang telah mati.


Primrose

—I can’t live without you—


Satu, kau terpaku.


Kau memejamkan kedua matamu, menarik napasmu secara perlahan, kemudian berusaha untuk mencerna sebuah informasi yang baru saja kau terima dari Yukiko melalui email yang kau baca beberapa detik yang lalu.

“…Chie, Yosuke telah meninggal…”

.

.

.

Yosuke… Hanamura Yosuke… Pemuda yang biasanya tampak selalu ceria (meski kau tahu bahwa hidupnya selalu dipenuhi oleh berbagai macam kesulitan—dan kesialan, tentu saja), pemuda yang identik dengan headphone berwarna oranye yang selalu menggantung di lehernya, pemuda yang bercita-cita ingin memiliki sebuah sepeda motor dengan uang tabungan dari hasil kerja kerasnya sendiri, dan pemuda yang melindungimu dengan nyawanya ketika kau terancam bahaya (di suatu sore yang tak mungkin terhapus dari ingatanmu).

Saat itu, di depan matamu, Yosuke tertabrak sebuah mobil dan tubuhnya terseret sejauh beberapa meter (dari tempatmu berada dan menyaksikan semua kejadian naas tersebut), kemudian terpental berkali-kali di atas aspal yang keras dan kasar, dan yang dapat kau ingat setelah peristiwa mengerikan itu, hanyalah sebuah jeritan seorang wanita yang meneriakkan nama pemuda tersebut dengan penuh kengerian.

.

.

.

(Ia… pemuda itu…)

Kau berusaha dengan keras ‘memahami’, bahwa ia telah tiada. Ia yang tampak menyenangkan, lucu, hangat, dan bersinar bagaikan mentari (bagimu) itu—telah tiada.

Ia telah tiada, yang itu berarti; bahwa kau tak akan pernah lagi dapat melihat senyumnya (yang selalu membuatmu merasa nyaman), kau tak akan pernah lagi dapat mendengar tawanya (yang selalu membuatmu merasa senang), kau tak akan pernah lagi dapat menerima kebaikannya (yang selalu membuatmu merasa terus ingin berada di sampingnya), dan kau tak akan pernah lagi dapat merasakan kehadirannya (yang merupakan satu-satunya hal yang paling dapat membuatmu merasa bahagia).

Meski kau telah berusaha untuk mengerti betul bahwa ‘ia telah tiada’, namun, sekeras apapun usahamu, otakmu tetap tak dapat menerima informasi—kenyataan—tersebut, walau kau telah mencoba mengulang dan mengulang kalimat tersebut dalam otakmu. Apa yang terus kau usahakan dengan keras saat ini (yaitu mencoba mengerti bahwa ia telah tiada; yang itu berarti bahwa mulai besok dan seterusnya, kau tak akan pernah dapat melihat dirinya lagi), selalu berakhir dengan rasa nyeri dan pusing di kepalamu; bisa jadi apa yang sedang kau coba pikirkan dan kau cerna saat ini, terlalu berat bagi otakmu.

Kau merasa janggal, bahwa pemuda yang selama ini tampak selalu sehat dan ceria (meski bukan hanya sekali kau pernah menendangnya dengan keras di tempat yang amat menyakitkannya), kini telah terbaring dan kehilangan cahaya serta semangatnya, untuk selama-lamanya.

Kau merasa aneh, kau merasa bingung, kau merasa otakmu sakit dan kau merasa bahwa apa yang baru saja kau baca (dan baru kau pahami sebagian) di layar ponselmu barusan, hanyalah sebuah mimpi buruk atau imajinasi buatan yang mungkin saja diciptakan oleh ilmuan gila yang jahat dan mencoba memasukkan gambaran palsu yang buruk ke dalam otakmu dengan gelombang tertentu atau mesin aneh temuannya yang lain—dan semakin kau memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut, kau hanya dapat merasakan denyut yang membuat kepalamu semakin sakit dan pusing.

Kembali kepada kemungkinan pertama; kau berharap bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk yang terkesan begitu nyata bagimu, dan kau berharap agar dapat segera terbangun dari mimpi buruk yang benar-benar menyebalkan dan sama sekali tidak menyenangkan ini. Namun kenyataan tetap saja kenyataan; berbeda dengan mimpi (meski pun mimpi itu terkesan nyata sekali pun), keduanya, antara mimpi dan kenyataan, tetap saja memiliki perbedaan yang benar-benar jelas dan nyata.

Jika kau hanya bermimpi, maka ketika kau membuka kedua matamu, kau akan terbebas dari apa yang baru saja kau lihat, kau alami, dan kau rasakan—karena semua yang baru saja terjadi hanyalah bunga tidur yang tidak sungguh-sungguh terjadi.

Akan tetapi, jika kau sedang berada dalam dunia nyata, maka ketika kau membuka kedua matamu, meski kau memejamkannya kemudian membukanya kembali, maka apa yang sebelum dan sesudah kau menutup matamu terjadi, akan tetap (begitu adanya), dan tidak akan pernah berubah sama sekali.

Meski kau memejamkan kedua matamu, menarik napasmu sehara perlahan, kemudian berusaha untuk mencerna sebuah informasi yang baru saja kau terima dari Yukiko melalui email yang kau baca beberapa detik yang lalu, tetap saja kenyataan bahwa ‘ia telah tiada’, tidak akan bisa dan tidak akan pernah berubah.

Itulah yang orang-orang sebut sebagai kenyataan; yang tak kau bisa lari atau menghindar darinya.


Dua, kau membuka pintu.


Kau dapat mengingat dengan jelas semua yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan saat ini—sederet alat-alat kedokteran dengan berbagai macam jenis dan fungsi, sebuah kantung infus berikut dengan selang beserta jarumnya, bau berbagai jenis obat-obatan (yang tetap saja tercium asing bagimu), orang yang memakai jas putih dan mengenakan stetoskop di lehernya beserta orang yang memakai seragam dengan warna yang serupa di sebelahnya; yang sedang berdiri di samping sebuah tempat tidur dimana seseorang tengah terbaring di atasnya—rumah sakit, saat ini kau sedang berada di rumah sakit (setelah mendapat berita bahwa ‘ia telah tiada’ dari sahabat terdekatmu, Yukiko, kemudian segera berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit ini).

Memori dalam otakmu mulai bekerja, ia berputar dan mengingat peristiwa yang terjadi sebelumnya dan sebelumnya, saat kau mengunjungi rumah sakit ini (lebih tepatnya, kamar ini) hampir setiap hari, dan selalu menunggu orang yang berbaring di atas tempat tidur (yang sama tersebut), untuk segera terbangun dan tersadar dari komanya.

Kini otakmu dapat menguraikan semua kejadian yang sejauh ini telah terjadi—saat di mana kau memasuki ruangan ini, di mana untuk pertama kalinya kau diperbolehkan untuk melihat keadaannya secara langsung (meski saat itu kau tak bisa berlama-lama terus berada di sisisnya). Kemudian kau keluar dari ruangan ini saat waktumu (untuk menemaninya di sisinya) telah habis, dan ketika itu, kau tak segera langsung pulang menuju rumahmu, melainkan duduk menunggu di sebuah kursi biru yang terdapat tepat di depan kamar tersebut. Kau duduk di kursi tersebut, tak henti-hentinya mencemaskan orang yang sedang terbaring di kamar ini, hingga orang tuamu menelponmu dan Yukiko menjemputmu saat angka yang ditunjukkan oleh layar ponselmu menunjukkan pukul 23:48 malam.

Lalu keesokan harinya, saat bel pertanda sekolah telah usai dibunyikan melalui pengeras suara yang terdapat di beberapa sudut sekolahmu, kau segera merapikan barang-barangmu dan melesat keluar dari dalam kelasmu, kemudian berlari (atau berjalan dengan cepat) menuju tempat pemberhentian bis terdekat, setelah itu kau menunggu dengan cemas dan tak sabar hingga kau tiba di rumah sakit ini.

Hal itu terus berulang dan berulang hingga beberapa hari, kemudian beberapa pekan, dan meskipun kau selalu datang dan datang ke kamar ini, berharap akan adanya perubahan yang terjadi (setiap terakhir kali kau menjenguknya), namun apa yang kau dapatkan, apa yang dan kau saksikan dan apa yang kau alami rupanya pun terus berulang—yang tidak berulang hanyalah beberapa orang (selain dirimu) yang ikut menjenguknya juga dan ikut mengkhawatirkannya pula, serta turut menemanimu dengan berada di sampingmu selama kau menunggu orang yang terbaring di kamar ini agar segera terbangun dari ketidaksadarannya.

Dan apa yang selama ini kau tunggu—mengenai ‘berharap akan adanya perubahan yang terjadi (setiap terakhir kali kau menjenguknya) ‘—kini telah tiba.

Namun, yang sebetulnya kau harapkan (dan selalu kau tunggu), bukanlah yang seperti ini.


Tiga, lalu kau mendapati.


Kau melihat lima—empat orang (sebab yang seorang lagi kini telah kehilangan nyawanya, kau tahu hal itu) dalam kamar ini. Dua orang memakai pakaian putih, seorang lagi adalah seorang wanita yang kau kenal sebagai ibu dari orang yang terbaring di atas kasur tersebut, dan seorang lainnya adalah seorang wanita yang kau kenal sebagai sahabatmu, yang memberitakanmu mengenai peristiwa yang baru saja terjadi dan ia beritahukan kepadamu, Amagi Yukiko.

Wajahnya tampak sedih, kemudian ia menyebut namamu lirih, “Chie…”

Hening menyelimuti kamar ini sesaat (begitu kau tiba dan muncul dari pintu kamar ini). Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun, semua hanya memandang ke arahmu dengan tatapan yang sama; sebuah tatapan yang sendu, dan kau benar-benar merasa tidak nyaman dengan semua ini, dengan semua hal yang kau lihat, dengan semua hal yang kau rasakan, dan dengan semua yang kau dapatkan (tatapan-tatapan mata itu) dari orang-orang yang berada di dalam kamar ini.

Kau mencoba melangkahkan kaki kananmu, mendekat ke arah orang-orang yang berdiri di hadapanmu. Namun kau merasa bahwa syaraf-syarafmu seolah berhenti bekerja, sebab mereka tak mau menjalankan perintah yang otakmu berikan (untuk maju satu langkah ke depan). Seketika rasa takut menguasai seluruh pikiranmu (yang padahal sejak tadi kau masih merasa cukup baik-baik saja), kau yang biasanya kuat, kau yang selalu mampu berpikir positif dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi yang sesulit apapun, kini seolah kehilangan dirimu (yang seperti ‘biasanya’).

Kau merasa takut, kau merasa lemah dan tak berdaya, kau merasa bahwa seluruh tenaga, keberanian, dan kekuatanmu seolah dihisap dan dilenyapkan begitu saja dari dalam tubuhmu.

Jari-jarimu mendingin, kakimu gemetar, tubuhmu lemas seketika, telapak tanganmu basah oleh keringat, nafasmu tercekat, matamu terasa panas dan pedih; namun kau berusaha untuk menahan semua itu—berusaha agar tak ada tetesan air yang mengalir membasahi pipimu (yang kini telah memerah).

Ketika kau tengah berjuang (sendiri) dengan semua itu, sebuah tangan yang hangat dan lembut mengarah padamu, ia—Yukiko—memelukmu erat dan berusaha menenangkan dirimu dan membantu meringankan bebanmu sedikit, meski sebetulnya ia pun sama sedihnya dan sama rapuhnya seperti dirimu saat ini.

Namun Yukiko tahu betul, bahwa kau, ‘ksatria’ yang selama ini selalu melindungi dirinya, kini tengah menderita; dan ia, ingin menolong ksatrianya—sahabatnya, yang kini sedang terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang begitu dalam, dingin dan gelap; tanpa cahaya, tanpa kekuatannya, dan tanpa pedangnya, sendirian.

Pedang milik ksatria itu —kau—kini telah patah.

(Dan sekarang, giliran sang putri yang menolong sang ksatria.)

“…Chie, aku tahu semua ini begitu berat bagimu— kau tahu, aku pun merasa demikian, namun aku benar-benar mengerti dan benar-benar tahu apa yang kau rasakan— kumohon, Chie… kau— kita— harus merelakannya pergi…” Yukiko berbisik lemah di telingamu sambil terisak beberapa kali sehingga kalimat yang diucapkannya kepadamu terputus-putus.

Sementara tak ada yang berubah dengan dirimu, wajahmu, emosimu—kau merasa seolah-olah bahwa seluruh indera dan perasaanmu kini menghilang entah kemana, kau merasa seperti sebuah boneka tak bernyawa yang sama sekali tak memiliki hati, jiwa, pikiran, maupun perasaan.

(Kau merasa tubuhmu seperti tak bernyawa—seperti orang mati yang terbaring di atas kasur tersebut).

Kini Yukiko melepaskan pelukannya darimu, dan tampaknya kini ia sudah merasa sedikit lebih baik. Ia memandangmu cemas, dan kau dapat melihat dengan jelas kini merah (warna yang kau sebut sangat cocok dengan dirinya) mewarnai skleranya. Sementara bekas lelehan air mata masih membasahi wajahnya, ia kembali membuka mulutnya dan menyampaikan sesuatu padamu.

(Kau tahu, kini ia sedang berusaha menghibur dirimu.)

“Tadi… sebelum aku mengirimimu email, Yosuke sempat kritis dan mengalami kejang-kejang saat dia sedang koma,” kau dapat mendengar nada penyesalan dalam setiap intonasi suara yang Yukiko ucapkan, “…dan… kau tahu… saat melihatnya menderita seperti itu— kau tahu—” Yukiko kembali terisak, kini ia mulai menangis. “…Kau tahu, saat ia sedang menderita seperti itu— dia— saat dia sedang kritis— …dokter bilang bahwa lebih baik ia meninggal, sebab gegar otak yang dialaminya begitu parah…” Kini Yukiko tak dapat lagi membendung emosinya, tangisnya pecah.

Sementara kau yang mendengar semua penuturan tersebut merasa semakin bertambah buruk—ia, Yosuke… rupanya begitu. Rupanya hidupnya memang hanya sampai di sini. Rupanya inilah jalan yang terbaik baginya. Baginya, untuk kehilangan nyawanyaagar ia bisa terbebas dari semua rasa sakit itu dan tak menderita lebih lama lagi.

…Sebab, kau tahu. (Akhirnya) kau tahu bahwa gegar otak memang dapat menyebabkan kematian. Kau tahu bahwa ketika cairan dalam tempurung otakmu tak dapat melindungi otakmu agar tak berbenturan dengan tulang tengkorakmu (yang disebabkan oleh benturan keras di kepala—seperti pada saat kecelakaan maut yang terkutuk itu), maka otakmu akan terganggu dan mengalami kerusakan, bahkan mungkin pendarahan. Kau tahu, kau tahu, kau tahu…

…Akan tetapi, kau baru tahu bahwa ternyata gegar otak dapat menyebabkan kematian (mengalami kejang-kejang saat ia koma…). Kau pikir, gegar otak tersebut hanya membuat Yosuke tak sadakan diri (ia tak pernah tersadar dari komanya sejak peristiwa itu…), atau kemungkinan terburuk lain apabila ia didiagnose mengalami kelainan jiwa atau amnesia setelah ia mengalami kecelakaan tersebut (barusan ia sempat kritis…).

(…dan dokter mengatakan bahwa ia lebih baik meninggal…)


Empat, tubuh yang telah mati.


Kau melihat dengan baik wajahnya yang terlihat tenang bagaikan air itu. Dan tampaknya tak sedikit pun terlihat (dari wajahnya) bahwa ia sedang menderita atau sedang merasa kesakitan (meski kau masih dapat melihat dengan amat sangat jelas masih terdapat beberapa bekas luka dan memar-memar biru di sekujur tubuhnya itu). Ia tampak tenang dan damai, seolah-olah sedang tertidur dengan nyenyaknya (dan bukan mati akibat kecelakaan), dan kau tak menyadari seutas senyum yang menjuntai tipis di wajahmu.

Meski kau tahu betul bahwa yang kau tatap hanyalah sebuah tubuh tanpa nyawa, namun kenyataan bahwa ketika setiap kali kau memandangnya, lalu kau tersenyum kepadanya, sama sekali tidak pernah hilang atau pun berubah.

Dan kini, kau pun tetap tersenyum seperti biasanya (meski tatapan matamu kosong dan beku bagaikan balok es yang dingin), kemudian dengan perlahan, kau mencoba untuk mengangkat tangan kananmu (dan tampaknya kini syaraf-syaraf dalam tubuhmu sudah kembali bekerja), lalu sedikit demi sedikit, kau menjulurkan tanganmu ke arahnya (oh, untunglah dia tidak ‘terbangun’), kemudian dengan agak ragu, kau menyentuh rambutnya sedikit. Setelah kau mulai terbiasa dengan keadaan itu, kau melanjutkannya dengan mencoba membelai lembut kepala pemuda tersebut.

Kau dapat merasakan helaian rambut halusnya di setiap jengkal kulit tanganmu, kemudian, kau terus mengelus dan mengelus pemuda itu dengan hati-hati, dan penuh kasih sayang.

Inilah hal terakhir yang mungkin dapat kau lakukan terhadapnya; sebab mulai besok, kau tak akan lagi dapat melihat wajahnya (yang menyenangkan itu), kau tak akan lagi dapat membelai lembut rambutnya (seperti saat ini), dan kau tak akan pernah dan tak akan bisa lagi bertemu dengannya.

Mulai besok, sekolah akan tetap berlangsung (tanpa Yosuke). Mulai besok, bangku yang terdapat di belakang mejamu akan kosong (tanpa Yosuke). Mulai besok, kehidupan akan tetap terus berjalan seperti biasanya (tanpa Yosuke).

(Oh, dunia tanpa Yosuke.)

Tanganmu berhenti bergerak tepat ketika belaian tanganmu sampai kepada bagian keningnya (tangan ini…). Kemudian, kau menyadari suatu hal (kening ini…). Bahwa kau telah kehilangan Yosuke (ini terakhir kalinya kulit kami saling bersentuhan…). Duniamu (mulai besok…). Dunia, tanpa ada Hanamura Yosuke yang hidup di dalamnya (mulai besok… Yosuke akan hilang dan lenyap dari dunia ini).

(…Yosuke, Yosuke-Yosuke-Yosuke-Yosuke-Yosuke-Yosuke-HANAMURA YOSUKE! BERANI-BERANINYA KAU PERGI DARIKU SECEPAT INI…!)

Kau menjerit marah dalam hatimu, namun sebetulnya kau bukan membentaknya atau membencinya. Kau berteriak marah dalam hatimu karena kau ingin agar ia segera kembali, agar ia tidak jadi pergi, agar ia tak menghilang dari dunia ini dan tak meninggalkanmu.

Kau ingin agar ia tetap berada di sampingmu, masa bodoh dengan dunia ata apa, yang jelas, kau hanya menginginkan Yosuke, Yosuke dan Yosuke. Yang kau inginkan saat ini dan keinginanmu seumur hidupmu hanyalah Yosuke.

(Namun, meski kau menjerit marah atau memohon sekeras apapun, Yosuke—yang kau inginkan—tetap tak akan kembali hidup lagi di dunia ini.

Sebab, ia sudah mati, ia hanyalah sebuah tubuh yang kosong, tanpa jiwa, tanpa nyawa.

Sebab, yang kau belai rambutnya dengan halus, yang kau sentuh wajahnya dengan lembut, dan yang kau tangisi saat ini hanyalah sebuah tubuh yang telah mati.)


FIN

Brambling

Posted: July 21, 2010 in Iseng-iseng

Disclaimer: .hack/G.U © Namco

Warning: Beware Junkfic, Chara’s death (?)

Brambling © Miyashita Kuroka


Brambling

—the cock o’ the North—


Ia melangkahkan kakinya, menuju ke sebuah tempat di mana ia dapat meluangkan waktunya sendiri. Sebuah ruang kecil dan sempit, ukurannya bahkan nyaris kurang dari setengah meter kuadrat. Setelah merasa yakin bahwa tak ada seorang pun di dekat sana, ia lalu menghalangi satu-satunya jalan masuk ke sudut ruang tersebut, dengan mengaitkan pintu lemari yang terbuka lebar ke paku yang tertancap pada dinding di sebelahnya.

Sekarang, tempat itu telah sempurna menjadi “ruang pribadi”nya. Tanpa perlu bergeser sesenti pun dari tempatnya berdiri, ia lalu menurunkan tubuhnya, kemudian terduduk di lantai yang dingin. Ujung kakinya menempel pada dinding, sementara punggungnya menyentuh bagian samping lemari. Sebetulnya ruang sempit ini sama sekali tidak bisa dibilang memenuhi standar, namun apa boleh buat, hanya di pojok ruang yang sempit dan kecil inilah satu-satunya tempat dimana ia bisa menyembunyikan tubuhnya secara utuh dari makhluk hidup yang orang-orang sebut sebagai ‘teman sekelas’.

Sebetulnya, tanpa menyembunyikan diri seperti ini pun, kehadiran sosoknya sudah cukup tak disadari oleh teman-teman di sekitarnya. Namun, jika tertangkap basah sedang menangis (seperti saat ini), meski ia bukanlah sosok yang dipedulikan oleh siapapun, pastilah hal ini akan menarik perhatian (setidaknya beberapa) orang. Dan ia, sangat-sangat tidak menyukai hal itu.

Bukan salahnya, jika ia tidak terlahir dengan otak yang cemerlang (sehingga ketika nilai-nilainya turun, orang tuanya memarahinya dan melarangnya untuk bermain-main atau bersenang-senang di luar sana).

Bukan salahnya, jika ia tidak dapat memakai pakaian yang sedang ngetrend, seperti yang dikenakan banyak anak-anak perempuan lainnya (sebab orang tuanya melarangnya memakai pakaian tersebut dan menyuruhnya untuk diam—sebab mereka percaya bahwa anak perempuan memang harus diam dan tidak melawan mereka atau membangkang atau menolak perintah mereka), sehingga teman-teman perempuannya merasa malas untuk berteman dengannya karena ia terkesan begitu kuno dan ketinggalan zaman.

Yah, mereka (para gadis-gadis itu) tak mau dicap kuno atau ketinggalan zaman hanya karena berteman dengannya.

…Jadi, bukan salahnya jika keadaan (pada akhirnya) menjadi seperti ini.

Bukan salahnya, jika ia terlahir seperti ini.

Dan bukan salahnya pula, jika semua usaha serta jerih payahnya selama ini, selalu berakhir pada satu kata.

“Sia-sia.”


Apa betul, jika ia sudah berusaha sekeras mungkin?

Kalau tidak, mungkin sudah sejak dulu ia mundur lalu menyerah, dan tengah mengurung diri di kamarnya saat ini, mencari berbagai cara yang dapat dilakukannya untuk segera mengakhiri hidupnya.

Apa betul, jika ia sudah mencoba segala cara?

Kalau belum, mungkin sekarang ia sedang berada di luar sana, alih-alih menyendiri seperti ini, mencoba satu persatu dengan sabar setiap cara yang ia yakini belum pernah ia lakukan.

Apa betul, jika tak ada satu pun usahanya yang membuahkan hasil?

Kalau ada, mungkin sekarang ia tidak sedang berada di ruang sempit itu, melainkan sedang bercakap-cakap dengan salah satu di antara mereka, berbagi kisah dan pengalaman, sambil sesekali tertawa lepas. Dengan aura kebahagiaan terpancar dari wajah cerianya yang berseri; bukan dengan mata sembab yang tertoreh pada wajahnya yang tertunduk dalam, ataupun tetesan kristal bening yang membasahi wajahnya kini.

Jangan pernah bertanya kepadanya, ‘sekeras apa ia telah berusaha’; karena ia selalu berusaha sekeras mungkin, tanpa mempedulikan kebahagiaannya yang telah terampas sepenuhnya oleh orang lain.

Jangan pernah bertanya kepadanya, ‘berapa kali ia telah mencoba untuk berusaha’; karena ia selalu mencoba untuk berusaha setiap hari, dan setiap waktu, bahkan sudah tak terhitung lagi berapa jumlah usaha yang sudah ia coba lakukan hingga detik ini.

Jangan pernah bertanya kepadanya, ‘bagaimana hasil dari seluruh usahanya tersebut’—karena pada kenyataannya, tak satu pun, tak satu pun dari semua usahanya (yang selama ini meminta tumbal berupa waktu, uang, pikiran, serta kebahagiaannya) yang melahirkan sebuah timbal balik yang sudah selama bertahun-tahun ia nantikan dan terus ia harapkan; meski hanya sedikit

yang ia percaya, hari dimana seseorang akan mengakuinya, suatu saat nanti akan tiba.


Saat ini, di sekolah, di sudut ruang sempit yang terletak di pojok kelas, ia sedang terduduk seorang diri, ditemani kesunyian dan kesendirian. Sesekali angin lembut meniup setiap helaian rambutnya melalui celah-celah kecil pada jendela, membuat perasaannya menjadi sedikit lebih nyaman. Ia jadi teringat akan burung kecilnya yang selalu menghibur dirinya di kala ia sedang terpuruk—ya, burung itu. Burung peliharaannya yang sangat ia sayangi, yang mungkin kini tengah menunggu kepulangannya dari balik kandang kecil itu; dan ia tahu betul, bagaimana rasanya berada di kandang kuning kecil itu—terisolasi dalam kekekangan, kedua sayapnya hanya dapat terlipat rapat sambil memandang betapa luasnya langit biru.

(Baginya, burung merupakan lambang kebebasan, dimana mereka dapat merentangkan kedua sayapnya selebar-lebarnya di langit yang luas, menikmati dunia luar yang indah, tanpa kecemasan.)

Ia berpikir, andaikan saja ia dapat terbang bebas bagaikan burung-burung di langit, pastilah ia akan merasa lebih bahagia. Ia ingin bebas, ia ingin terbang di lautan langit yang biru, hangat dan cerah, lalu mencari kebahagiaannya sendiri di sana—

(—dan mungkin sebetulnya, burung berdada jingga yang mendekam di sangkar kuningnya tersebut, juga ingin bisa terbang bebas di langit sana…)

Meski Ia tahu begitu, tapi, tapi—ia tidak mau melepasnya, ia tak ingin burung itu meregangkan sayapnya di udara yang luas—sebab jika ia membiarkan burung itu terbang ke langit bebas sana, maka ia akan tinggal sendirian; sendiri, di kamar yang sepi dan remang, tidak akan ada lagi yang menghibur hatinya di saat ia sedih, tidak akan ada lagi yang mendegar keluh kesahnya di saat ia butuh seorang ‘pendegar’ ataupun ‘teman bicara’, tidak akan ada lagi yang ‘menunggu’nya pulang sekolah, dan—tidak akan ada lagi yang menemaninya dalam nasib dan keadaan yang ‘sama’, seperti dirinya.

(Ia tahu, amat sangat tahu bahwa ia memang egois, bahkan mungkin kejam karena telah menggenggam kebebasan makhluk kecil itu dengan erat di tangannya, namun…)

Setelah basah di pipinya mulai mengering, dan seluruh murid yang ada di sana sudah meninggalkan ruang kelas tersebut, ia keluar dari tempat di mana ia menyembunyikan sosoknya dari ‘dunia’ (ya, ruang kelas yang terasa sangat menyesakkan dan memuakkan itu) selama kurang lebih satu jam terakhir, lalu meraih tas hitam yang terletak di meja tempat dimana ia duduk, tak mengindahkan coretan-coretan berisi ejekan serta hinaan tak berperikemanusiaan yang memenuhi mejanya yang terletak di sudut belakang kelas (karena ia sudah amat terbiasa—bosan malah, dengan semua pemandangan seperti itu), lalu pulang menuju rumah sambil tersenyum hambar. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah, dan bertemu dengan burung kesayangannya; ia sudah tak sabar lagi ingin bercerita kepadanya, ingin mengungkapkan semua emosi dan perasaannya dan pendapatnya bahwa dunia ini benar-benar menjijikan dan memuakkan.


Ia berkata “Aku pulang,” setelah sampai pada pintu kamarnya, berharap mendapatkan sebuah sambutan kecil dari makhluk mungil tersebut, seperti biasanya. Namun yang menjawab salamnya hanyalah kesunyian—tidak terdengar suara kicauan ribut dari burung kecil itu, ataupun sedikit tanda-tanda keberadaan burung itu di tempatnya.

Ia mematung sejenak sebelum akhirnya ia membelalakkan kedua bola matanya, dan secara refleks segera berlari ke arah jendela kamarnya, kemudian membukanya tergesa sehingga angin sore berhembus secara serempak melewati lubang jendela tersebut begitu saja, menyibakkan hampir setiap helaian rambut halusnya serta tirai hijau muda yang terpasang rapi di kamarnya. Ia memeriksa secara seksama keadaan sangkar yang letaknya agak tinggi tersebut, memandang secara was-was kondisi sangkar.

Semuanya tampak sama seperti pada waktu terakhir kali ia meninggalkannya pagi tadi, pintu sangkar tertutup rapat, tidak ada bagian sangkar yang rusak, dan—hei, rupanya makhluk mungil itu masih ada di dalam sana. Burung kecil itu sedang berdiri di dekat tempat makannya.

Ia menghela napas lega, bersyukur tidak terjadi apa-apa pada burung kecil kesayangannya. Ia lalu meraih bagian atas sangkar tersebut, bermaksud untuk menurunkannya. Makhluk mungil itu tampak tenang, tidak ribut seperti biasanya. Hm, mungkin burung kecil itu sedang tertidur lelah karena terus menunggu kepulangannya; sebab tidak biasanya ia pulang sesore ini.

(Yah, dan ia sangat yakin akan hal itu dan merasa sedikit menyesal karena telah membiarkan kawan mungilnya terus menunggu kepulangannya hingga selarut ini.)

Ia kembali tersenyum sambil menatap hewan berbulu lembut itu dengan tatapan hangat, kemudian meletakkan sangkar tersebut di lantai, lalu mendekatkan wajahnya pada burung itu sehingga jarak antara kerangkeng kuning tersebut dengan wajahnya kini hanya sekitar tiga senti.

“Maafkan aku, hari ini aku pulang terlambat, tidak seperti biasanya…” katanya lembut kepada hewan peliharaan manis di hadapannya. “Kau pasti kehausan karena terlalu lama menunggu,” katanya, “aku akan mengambilkanmu air. Tunggu sebentar, ya…”

Ia bangkit dari posisinya, kemudian membalikkan tubuhnya, hendak mengambil air minum untuk si burung kecil dari dapur rumahnya. Tidak sampai lima menit, ia sudah kembali ke tempatnya semula bersama si burung kecil tadi. Sebelah tangannya memegang wadah kecil berisi air, sementara tangan lainnya sibuk membuka pengait pintu sangkar. Ia harus selalu ekstra berhati-hati setiap kali ia membuka dan menutup pintu sangkat tersebut, karena jika ia lengah sedikit saja, maka bisa saja burung bergenus Fringilla itu hanya akan jadi tinggal kenangan. Dan ia, sangat-sangat tidak menginginkan hal itu.

Ia berhasil melaksanakan ‘tugas’nya sempurna, kini wadah kecil berisi air tersebut berada di dalam sangkar, lengkap dengan penghuninya yang anehnya, tiba-tiba saja menjadi ‘anak yang baik’ sekarang.

“Ayo, diminum… airnya enak, lho… pasti segar,” Ia menawarkan air tersebut kepada sahabat kecilnya. Ia menatap sahabatnya lama, dan mendapati hewan berparuh kuning-hitam itu tidak bergeming sama sekali. Seketika, ia merasakan sesuatu yang janggal, ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya; mungkin yang paling disayanginya itu kini sedang sakit, atau mungkin, jangan-jangan—‘tidak, ini tidak mungkin… Ini mustahil, tidak… Pasti bukan itu, ya, pasti. Tidak mungkin kalau itu terjadi. Tidak mungkin, tidak mungkin kalau—’

Ia mengangkat sangkar kuning tersebut sehingga posisinya kini sejajar dengan wajahnya, memastikan bahwa ‘hal itu’ tidak terjadi. Ia menatap lekat-lekat hewan bersayap tersebut, sepasang retinanya menangkap gambar seekor burung kecil yang sedang tertunduk; kemudian ia berusaha menyadarkan burung pengembara dari utara tersebut dengan menggoncangkan sangkar kuning tersebut, membayangkan makhluk kecil tersebut akan segera terbangun dari tidurnya, lalu terbang tidak teratur di dalam sangkarnya karena panik.

Namun, yang didapatinya, hanyalah kekosongan belaka. Tatapan mata yang kosong, hati yang kosong, dan…

Tubuh yang kosong, tanpa nyawa.

Seketika, dunianya terasa berputar. Waktu bagaikan terhenti dalam sekejab.

‘…Tidak mungkin, ini pasti bohong… Mana mungkin ini terjadi, tadi pagi dia masih terlihat sehat seperti biasanya, tidak… Ini pasti hanya sebuah kesalahan bodoh belaka… Mana mungkin, mana mungkin dia… —Mati.’

Dengan tubuh yang bergetar, Ia membuka pintu sangkar tersebut dengan jari-jarinya yang sudah mendingin. Sementara jantungnya berpacu semakin cepat, hatinya terombang-ambing dalam lautan kebimbangan. Pikirannya bercampur aduk bagaikan bayangan yang terus berputar-putar. Bingung, aneh, semuanya… Semuanya terasa begitu… tak nyaman dan membuat sakit kepala semakin lama ia semakin memikirkannya.

Ia meraih Fringilla montifringilla itu dengan hati-hati, menatap dalam-dalam burung berusia sekitar satu tahun tersebut, yang terbaring kaku di telapak tangannya yang dingin serta basah karena keringat.

Ia menatap lekat burung kesayangannya. Diam, kemudian memandangnya dengan tatapan hangat, sambil memahat senyum semu agar dapat terukir pada wajahnya, supaya ia dapat tetap memasang wajah lembutnya seperti biasa, seperti saat di mana ia melalui waktu-waktunya yang berharga dengan burung tersebut, seperti biasa, seperti saat di mana burung itu masih hidup.

‘…Sekarang, kau pasti sedang terbang di langit yang luas, bersama dengan teman-teman burungmu yang lainnya,‘ Ia bergumam pelan tanpa melepaskan pandangannya dari objek yang sedang terkulai tak berdaya di hadapannya; di atas permukaan telapak tangannya yang terbuka lebar. ‘…Pasti, saat ini kau bahagia… karena pada akhirnya kau bisa bebas, dan dapat merentangkan kedua sayapmu di langit tinggi yang tak terjangkau olehku, bersama dengan teman-temanmu; tidak lagi merasa kesepian dalam kesendirian dan terkurung di balik jeruji besi yang dingin ini…’

Ia mengenang hari-hari yang mereka lalui bersama selama ini, sambil menggenggam lembut tubuh kaku burung kecil tersebut dan mendekapnya dalam-dalam ke dadanya.


Saat itu, sekitar sebulan yang lalu, ia sedang bermain ayunan sendirian di sebuah taman bermain, setelah ia dimarahi oleh kedua orang tuanya akibat nilai-nilainya di sekolah tidak dapat memuaskan mereka. Hanya decit engsel besi yang terdengar serta kaokan burung-burung gagak, sementara ia terus terdiam sambil berayun pelan pada ayunan tersebut sambil menatap tanah dengan tatapan tanpa ekspresi. Namun meski terlihat seperti itu, sebetulnya ia terus menjerit dalam hati, bahwa ia telah berjuang dengan amat keras, namun tidak ada seorangpun yang mau menilai dan menghargai usaha kerasnya selama ini.

Saat itu, kedua mata jernihnya menangkap sebuah objek visual, yang kemudian berhasil meraih perhatiannya. Seekor burung Fringilla montifringilla, yang jatuh terkapar di atas tanah, tertinggal sendiri dari kawanannya yang sedang bermigrasi menuju ke arah selatan. Ia menatap lekat-lekat burung yang rupanya sedang terluka tersebut, lalu memutuskan untuk segera turun dari ayunan yang sedang didudukinya, melangkahkan kakinya pelan mendekati burung tersebut, kemudian memperhatikannya lekat-lekat.

Saat itu, yang terbayang di dalam otaknya hanyalah; bahwa nasib burung malang tersebut sama dengan dirinya. Sendiri, terluka, ditinggalkan, dan tidak dipedulikan. Ia mengulurkan tangan lembutnya, meraih burung tersebut dengan sangat hati-hati, lalu memutuskan untuk merawat burung kecil itu, paling tidak sampai sayapnya sembuh hingga burung itu dapat kembali terbang ke angkasa luas.

(Yang kini, pada kenyataanya, tak sesuai dengan perkiraannya pada saat itu.)


Buliran air kesedihan kembali membasahi pipinya yang kini telah memerah dan panas. Sementara ia tak dapat menghentikan derasnya air yang terus menerus berjatuhanah hingga membasahi seragam serta rok sekolahnya, ia menjerit sekeras-kerasnya dalam hati bahwa dunia ini begitu kejam dan memuakkan.

Ia sudah letih dengan semua yang ia hadapi dan ia terima selama ini, dan sekarang, di saat ia benar-benar merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga baginya, di saat di mana ia memiliki ‘sumber kebahagiaannya’, dan di saat di mana ia memiliki satu-satunya ‘alasan’ yang dapat membuatnya terus tetap ‘bertahan’ di dunia yang begitu menyebalkan ini, semua itu… semua itu ditarik kembali darinya begitu saja, tanpa sempat ia mencicipi kehangatan dan kemanisan dan kelembutan dan kebahagiaan tersebut lebih lama lagi.

Ya, ia merasakan semua hal itu—kehangatan, kemanisan, kelembutan, kebahagiaan, dan cinta—dalam waktu yang begitu singkat. Sangat singkat. Dan semua itu diambil begitu saja secara tiba-tiba darinya, benar-benar… benar-benar sebuah skenario langit (atau yang biasa orang-orang sebut sebagai ‘takdir’) yang betul-betul menjijikkan.

Kini derasnya air yang meluncur dari sela-sela sepasang matanya telah berhenti mengalir, hatinya telah berhenti menjerit, rona merah pada pipinya mulai memudar, kemudian ia berdiri, berjalan ke arah sebuah meja (dengan tiga rak berukuran sedang di bagian bawahnya), dan burung kecil tak bernyawa itu ia letakkan di atas meja, lebih tepatnya di bagian samping meja tersebut, kemudian ia menduduki kursi yang terletak tepat di belakang meja di mana ia meletakkan sahabat kecilnya tadi, sementara tangan meraih sebuah perangkat keras; ia memainkan mouse, menekan jari-jarinya di atas keyboard dengan gesit, memasukkan sebuah alamat web yang sudah ia hafal di luar kepalanya, lalu mengakses sebuah situs yang sudah tak jarang ia kunjungi.

Ia mengakses situs tersebut—situs bunuh diri, dan di sana, tanpa perlu berpikir dua kali, ia segera membuka sebuah menu berwarna hitam-ungu yang bertuliskan ‘Step Closer to Suicide?’ dengan ekspresi monoton—ia sudah terlalu benci dan muak akan segala hal.

Seketika layar monitor berubah hitam, dan ia membaca setiap baris kalimat yang terdapat di halaman web tersebut .

.

.

.

Well here you are

at the edge of the abyss…

at the beginning of infinity

heaven or hell

an afterlife

or a nothingness

forgiveness

or an eternity of suffering ?

Does anyone really know ?

Why have you come here ?

What do you need ?

To Find a Way to Live ?

or To Find a Way To Die ?

.

.

.

‘Aku ingin mati…’ kalimat dingin tersebut ia ucapkan dalam hati, kemudian, ia kembali membaca baris tulisan berikutnya.

.

.

.

Here is a cup of pills

with the power

of life, and death.

What would you like these pills to do for you ?

Maybe you want to take them to die . . . ?

.

.

.

Ia hanya mengangguk pelan. Keyakinan serta tekadnya untuk melakukan bunuh diri sudah begitu bulat. Kini, ia hanya perlu membaca instruksi selanjutnya agar ia dapat mengetahui apa yang harus ia lakukan berikutnya…

.

.

.

But I ask you now..

how many of these pills

would you take each day to live ?

To feel good, normal good, like everyone else ?

Stable, not depressed, even happy, but normal ?

These are some of the pills I take every day

to save my life.

They are not herbs or antidepressants.

I feel happy, I feel pretty good, I feel normal.

I am grateful.

It’s been 15 years now that my life stay

on earth has been voluntary.

You have a chance right now

to start your life over

instead of trying to end it.

You can resurrect yourself

from this living death

to restore and re-start your life anew.

.

.

.

Ia hanya terdiam ketika selesai membaca kalimat tersebut. Bulir air kembali membasahi pipinya, dan kini, ia mulai terisak keras. ‘Oh, betapa bodohnya aku— mengapa aku berpikir untuk segera mengakhiri hidupku dengan begitu mudah, sedangkan apa yang terjadi selama ini sebetulnya tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan…? Mengapa aku begini mudahnya merasa putus asa…? Mengapa aku selemah ini…? Mengapa aku selalu ingin berlari dan terus menghindar dari kepahitan hidup dan kenyataan yang ada…?’ Ia menangis semakin kencang, kini air mata mulai membanjiri pipinya meski sudah hampir seharian penuh ia terus menangis dan menangis.

Setelah tangisannya mulai mereda dan perasaannya menjadi semakin lebih baik (begitu ia menumpahkan seluruh emosinya dan meluapkan segenap perasaannya melalui tiap tetes air mata yang ia keluarkan), ia kembali menginstropeksi dirinya sendiri. Ya, ia akui, selama ini, ia memang selalu memandang segala sesuatu hanya dari sisi negatifnya, dan selalu merasa bahwa tak ada sedikit pun hal positif yang ia dapatkan atau ia rasakan. Hal inilah yang akhirnya membuat dirinya selalu merasa menderita dan menderita seperti ini—padahal, jika ia tidak sibuk meringis dan menangisi luka yang menganga di lututnya ketika ia terjatuh akibat tersandung sebuah batu, maka bisa saja ia menemukan sekeping koin emas yang tergeletak di dekat tempat di mana ia terjatuh barusan.

(Kini, yang perlu ia lakukan, hanyalah kembali bangkit dan berdiri setelah ia terjatuh, kemudian, dengan semangat tak pantang menyerah, ia harus menata kembali seluruh kehidupannya, dan mencoba memulai segalanya kembali dari awal lagi.)

Ia tersenyum. Kali ini, bukan sebuah senyum palsu seperti yang beberapa saat lalu ia gambarkan secara paksa di wajahnya. Ia tersenyum dari lubuk hatinya yang terdalam; ia benar-benar merasa bersyukur bahwa ia disadarkan tepat saat di mana ia benar-benar berada di ‘ujung tanduk’. Dan kini, ia benar-benar merasa berterima kasih dengan situs bunuh diri yang barusan ia akses, lalu ia buka, yang kemudian ia baca.

Ia benar-benar merasa bersyukur atas kehadiran situs tersebut—sebab melalui situs bunuh diri tersebutlah, kini pandangannya akan hidup mulai berubah.

(Dan di situs itu pulalah, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian memperkenalkannya pada The World, yang nantinya akan benar-benar merubah hampir seluruh hidupnya di kemudian hari.)


—FIN—

Fanfic Collab

Posted: January 7, 2010 in Uncategorized

Yeeeeeahaaaa~~ *teriak-teriak gaje* xDD

Akhirnya keinginan saya buat menerjunkan diri ke dunia tulis menulis tercapai juga~~ ❤

Setelah melewati masa-masa yang penuh penantian *halah* akhirnya saya bisa juga nulis fic collab bareng Jo~~ (kyaaaa.. Jo,  you’re the best!!! xD)

http://www.fanfiction.net/u/2193136/JokerTheMagician

Fic ini masih dalam pengerjaan (tentunya), dan sampai sekarang baru selesai sampai chapter 1 ;P sedangkan chapter 2 masih dalam pengerjaan dan masih banyak yang harus diedits… gyaha. :’D

Eniwei, karena musim liburan udah mau habis, jadi sepertiny mulai kedepannya pengerjaaannya bakal lebih lama… well, meskipun kabar burung bilang kalau bulan Maret nanti bakal ada banyak libur buat kelas 1-2 karena kelas 3-nya ujian… ,:3 (yang lagi mau ujian, ganbatte nee!!! ^^)

Yapz, males cuap-cuap lagi, hiii… >_<

Yawn~

Posted: November 26, 2009 in Iseng-iseng

Haha.. =w= It’s “lazy” me..

Phew..besok libur, tapi aku sama sekali nggak bisa menikmati yang namanya santai dirumah.. -_- ntar sore begitu pulang sekolah, langsung dijemput terus dibawa pergi ke luar kota… (kaya apaan aja, ya?)

..padahal aku lagi sibuk maen Persona 4 2nd playtrough.. = =” *dark glare* jadi nggak bisa maen… baru ampe nyelametin si ‘Tepung’, neh. D:,

Well, untuk sekarang-sekarang ini aku lagi nggak bisa ngepost tulisan yang bagus.. *swt* jadi yah..masih gini-gini aja. -_-

Mungkin lain kali aku bisa ngepost fanfic bikinan aku sendiri? ,:)

Kuro’s Sigh

Posted: November 26, 2009 in Iseng-iseng

*sigh*

Hahaha..sesuai dengan judul, kali ini aku mau ber-sigh-ria a.k.a mau ngeluarin semua UNEG-UNEG…!!! D:

Akhir-akhir ini aku ngerasa kalo aku selalu diliputi aura kegelapan… =_= entah kenapa, tapi mungkin itu karena aku udah kehilangan sesuatu yang… bisa membuat ‘this pitiful human’ bahagia…

..Sekarang, aku udah nggak punya lagi yang namanya…teman-teman yang ‘selalu’ ada di’samping’ku kaya waktu dulu.. T_T

Aku berharap…aku bisa kembali lagi…kembali lagi bersama teman-teman yang sangat berharga bagiku…karena hanya dengan bersama mereka, aku bisa menjadi ‘diriku yang sesungguhnya’… bukan lagi jadi ‘diriku yang sesuai dengan yang diinginkan orang lain’…

Haah..mungkin itu juga yang akhir-akhir ini bikin aku pundungan. =_=

Dulu aku juga punya blog, terus temen-temennya ya temen 1 sekolah…tapi (mungkin) karena temen 1 sekolah, aku jarang mendapat tanggapan dan perhatian…karena sakit hati, akhirnya aku memutuskan untuk vakum dari sana… Abisnya post-an aku JARANG dibales, ya udah.. aku hengkang aja dari sana. ;p

Daripada sakit hati, digaringin mulu.

Haha.. =w=

Kuro’s Sigh: End

Any comment? ,:3 (tapi kayaknya ga ada, deh… – -a)

Hello world!

Posted: November 19, 2009 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!