Fictogemino…

Posted: January 23, 2011 in Uncategorized

Exercise for FFC: Double-Fiction

Prompt/Setting: Membenci seseorang/Bebas


Disclaimer: Tema, setting, plot, karakter dan sebagainya © Saya (secara, orific gitu ;D *dicekek*)

Rating: T for Tibra *diinjek*

Main Genre: Fantasy & Adventure

Headnote: Karya fiksi ini berformat Fictogemino, atau Fiksi Kembar, di mana tulisan ini dapat dibaca mulai dari paragraf pertama hingga paragraf terakhir atau pun sebaliknya (dibaca mulai dari paragraf terakhir sampai paragraf awal).

Perhatian Khusus: Sebetulnya karya fiksi original ini masih dalam proses pengembangan dan belum bisa dibilang matang, baik dari segi ide, cerita, hubungan antar karakter, dan tetek bengeknya. Namun sebuah ‘pemaksaan’ dilakukan oleh penulis, hingga akhirnya lahirlah sebuah trailer orific yang cacat dan nista ini. Akhir kata, mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidaknyamanannya selama membaca kalimat-kalimat tidak jelas di bawah ini. Harapan dari penulis adalah; semoga pembaca sekalian bisa selamat hingga titik terakhir!


Le Crépuscule

—between dawn and sunrise—


Gadis itu menatap matahari senja yang berwarna merah. Semerah iris milik seorang pemuda yang harus menghadapi takdir yang keras dalam perjalanan hidupnya, dimulai sejak senja merah itu.

Kai hanya menatap gadis yang telah merobohkannya dengan tatapan membunuh. Sementara itu, tak tampak sedikit pun reaksi dari sang gadis yang menunjukkan bahwa ia terusik dengan hal itu. Gadis itu tetap terdiam dengan wajah-tanpa-emosi miliknya, menatap langit senja yang terlihat mulai memerah. Di atas langit, matahari seolah tampak malu dan menyembunyikan wujudnya di balik jubah cakrawala.

“Aku mengerti, bahwa kau pasti sulit untuk langsung menerima kenyataan ini… Bukankah begitu, Kage?” tanya gadis itu, membuat Kai semakin menaikkan alis matanya. “Kau pasti salah makan.” Jawab Kai heran bercampur mengejek. Gadis itu akhirnya tampak menghela napasnya, mendesah pelan, kemudian berkata, “Baiklah, akan kukatakan sekali lagi… Kau, Taiyou Kage, merupakan aset yang sangat penting demi menaklukkan orang-orang yang bertentangan dengan kebijakan Yang Mulia,” tutur gadis itu datar meski ia sedang menjelaskan, “dan Yang Mulia sendiri sudah memberimu kehormatan untuk melayaninya secara istimewa; beliau mengangkatmu sebagai salah satu tangan kanannya, sekaligus menjadikanmu sebagai salah seorang panglima perangnya.” Gadis itu mengakhiri perkataannya. “…Selamat,” tambah gadis itu lagi, meski tak terdengar sedikit pun ketulusan di sela-sela ucapannya.

“Apa kau bilang? Kau pasti bercanda…!” tutur Kai dengan nada mengejek, “Mana mungkin aku termakan oleh tipuan busukmu itu. Coba saja kau terus berkata seperti itu, sampai aku bosan.” Ujar Kai terus menyindir gadis berhati batu itu.

“Aku sama sekali tak peduli apakah kau percaya atau tidak. Yang jelas, aku sudah berusaha memberi tahumu. Sesederhana itu saja.” Ucap gadis itu dengan sedikit angkuh, membuat Kai merasa semakin benci dan kesal dengannya. “Kalau kau memang mempedulikan nyawa teman-temanmu yang lain, sebaiknya kau menurut dan ikutlah bersama kami.” Ajak gadis tersebut, “Kalau kau menolak, aku tak bisa menjamin keselamatan teman-temanmu yang lainnya.” Ancam gadis itu serius.

Kai tertegun sejenak. Perasaan aneh memenuhi seluruh pikiran Kai, seolah membuat isi kepalanya itu nyaris meledak, menjadikannya serpihan dan bercecer ke berbagai penjuru. Ia tak mampu lagi berpikir dengan tenang dan jernih, semuanya terasa begitu memuakkan untuk ukuran sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu. “Yeah. Usaha yang bagus sekali sekali. Aku sampai nyaris tertipu olehmu.” Ucap Kai sarkastis. “Bisa coba menakutiku lagi dengan cerita lain? Aku yakin kau pasti bisa melakukannya, sebab kau tampak jenius dengan semua omong kosongmu itu. Oh, atau kau mulai kehabisan kata-kata…?” Kai benar-benar merendahkan gadis tersebut dengan kalimat-kalimat tajamnya. Namun gadis itu seolah tak terpancing oleh perkataan Kai. Ia menggerakkan kepalanya pelan, mendongak sedikit ke arah temannya yang tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seorang wanita berambut hijau gelap yang sedang tertawa mengerikan, tampak begitu bahagia menendang dan menginjak-injak tubuh manusia yang menjadi pusat perhatiannya sekarang.

“Akira!” teriak Kai dengan seluruh sisa tenaga yang ada. Jantungnya berdebar keras kala melihat sosok yang dikenalnya tergolek tak berdaya seperti itu. Seketika, rasa takut memenuhi relung hati Kai. Ia menggigit bawah bibirnya, berharap keadaan sahabatnya itu masih baik-baik saja. Sementara itu gadis dengan penutup mata yang membuat nyaris seluruh tubunya mati rasa, hanya mendelik ke arah Kai dengan tatapan sedingin es. “Dia sudah mati.”

Kai hanya mampu terdiam. Seolah tak merasakan rasa sakit yang ditimbulkan oleh simbol kutukan pada mata kanannya. Membiarkan tetes-tetes darah yang hangat mengalir pelan, meninggalkan jejak merah panjang pada wajahnya. Hatinya masih terguncang dengan pernyataan yang gadis itu lontarkan padanya. Begitu banyak peristiwa ganjil yang terjadi hanya dalam waktu sekejap. Ingin sekali ia berteriak marah pada orang-orang asing dan aneh yang tiba-tiba saja menyerang mereka tanpa alasan, lalu membicarakan hal-hal tak masuk akal dan membingungkan lainnya. Akan tetapi, mulutnya seolah terkunci. Kala salah satu matanya menangkap siluet seseorang yang terkapar tak berdaya di atas tanah. Tubuh sahabatnya.

Butiran tanah mulai basah oleh rintik hujan. Membuat tetesan darah yang menggenang di atasnya kian memudar, bersatu dengan air, menyebar, dan hanyut terbawa arus.

.

.

.

[STOP]

(Bagi yang sudah selesai membaca dari paragraf pertama, sekarang silahkan membaca dari paragraf akhir hingga paragraf pertama)


Footnote: Pendek? Ya. Tentu saja (bersihnya saja, hanya ada 629 kata). Silahkan lempari saya dengan batu atau pun benda tumpul dan berat yang berada di sekitar anda. MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA karena hasil tulisan ini sama sekali tidak memuaskan (dan sejujurnya… saya merasa jijik sendiri ketika saya membacanya), sebab tulisan ini dibuat hanya dalam waktu semalam, dikerjakan tanpa pikir panjang, dengan berbekal ide yang masih mentah dan… sangat cantik… sekali.

Maka dari itu, mohon maaf bila anda sampai mual membacanya. (_ _”)


Akhir kata, terima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya… Semoga anda sekalian senantiasa sehat dan bahagia selalu! Sampai jumpa! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s