WIP Gagal… Hell YEAH

Posted: January 13, 2011 in Uncategorized

Rintik air yang semula hanya gerimis, kini turun semakin deras menghantam bumi. Membuat beberapa orang yang semula hanya berlari-lari kecil sembari mencoba untuk melindungi tubuh mereka apa adanya (dengan benda apapun yang fungsinya kurang lebih mirip dengan payung) untuk sementara, kini merubah pikiran mereka dan memutuskan untuk berteduh di suatu tempat yang lebih aman dari ‘serangan’ hujan air itu.

Termasuk salah satu diantara sekian banyak jiwa yang melakukan kegiatan sehari-harinya di daerah tersebut, terdapat seorang siswi menengah atas dengan jaket hijau cerah yang membalut tubuhnya, terlihat tengah berlari dengan kecepatan tinggi, menghindari ribuan titik air yang terus menyerbu dari atas sana, menuju suatu tempat bernaung yang tak dapat ditembus oleh mereka walau seribu pasukan batalion dikerahkan untuk merubuhkan tempat tersebut.

Mungkin karena cukup terlatih dan sudah terbiasa berlari untuk mengejar Yosuke yang berusaha kabur melarikan diri, gadis maniak Kung-Fu tersebut sama sekali tak merasa letih setelah berlari dengan kecepatan seperti itu. Bahkan berkeringat atau merasa lelah pun tidak, tubuhnya hanya basah oleh rintik hujan (alih-alih karena keringat), dan hanya terdengar ritme desahan nafasnya yang agak cepat sebagai bukti bahwa gadis itu memang baru saja habis berlari.

Ketika tengah menatap pemandangan di hadapannya yang buram oleh derasnya air hujan, dari arah belakang ada seseorang yang menepuk bahu gadis itu.

“Yo, Chie. Kau kehujanan rupanya.” Sapa seseorang tersebut dengan cengiran khasnya.

“Yosuke?” kedua mata Chie agak terbelalak. “Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Hei, justru itu yang harusnya aku tanyakan padamu,” balas Yosuke bermaksud untuk membalikkan pertanyaan. “Kenapa kau bisa berteduh di Junes?”

“J-Junes?” Chie tampak bingung. “Ini… di Junes?” tanyanya ulang pada Yosuke.

“Tentu saja,” pria berheadphone orang itu mendesah pelan. “Kau lihat pakaianku ini kan? Nah, aku sedang bekerja sambilan di sini.” Jelasnya menjawab pertanyaan dari Chie.

“O—ooh…” Chie ber’oh-oh’ ria sebab ia sama sekali tidak tahu harus berargumen atau setidaknya berkomentar apa.

“Hm, hujannya memang sangat deras… pantas saja kau jadi tidak sadar kalau ini adalah Junes,” Yosuke bergumam tanpa mempedulikan apakah perkataannya barusan didengar atau tidak oleh Chie, setelah itu Yosuke mengeraskan kembali suaranya, “bagaimana kalau kau tunggu hujannya sampai reda di dalam saja?” tawarnya.

“Eh? Boleh saja…” entah mengapa Chie merasa agak aneh ketika menjawabnya. “…Tapi, kenapa tiba-tiba saja kau jadi sebaik ini? Kau pasti sedang sakit ya? Atau sedang masuk angin karena musim hujan?” Chie bertanya heran.

“Kau yang sedang sakit dan masuk angin, Chie.” Yosuke membalas sebal. “Maksudku kau harus menunggu hujannya reda sambil membantuku bekerja sambilan, hitung-hitung sebagai ganti rugi karena kau sudah puluhan kali membuatku bangkrut.” Ucapnya dengan nada menggugat.

“HAH?!” Sontak Chie merasa terkejut bukan main; perasaannya bercampur aduk antara kaget dan kesal. “Sejak kapan aku harus bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabku? Uangmu habis itu kan urusanmu sendiri, bukan urusanku. Lagipula kau sendirilah yang bersalah karena tidak bisa mengatur keuanganmu dengan bijak, jadi terima kasih atas tawarannya tuan Hanamura Yosuke.” Komentar Chie galak.

“H-hei,” balas Yosuke, nada suaranya mulai terdengar agak sewot, “jangan seenaknya berbicara seperti itu setelah kau sukses membuang-buang uang milik orang lain!” tuturnya dengan gesit. “Kau tahu, aku mengumpulkannya dengan keringat, darah dan air mataku sendiri…!” ucap Yosuke menambahkan.

“Jangan lupa air liur,” celetuk Chie bermaksud mengejek.

“Dan bukan hanya itu—kau tahu, seberapa lama aku bersabar agar semua uang itu dapat segera terkumpul? Seberapa lama aku mendambakan sepeda motor yang telah lama kuimpikan, pada akhirnya dapat kukendarai dan melaju cepat di jalan raya? Seberapa lama aku bekerja, membanting tulang dan melelahkan diriku dengan mengorbankan sebagian masa mudaku untuk mengharap masa depan yang lebih baik? Dan mimpi yang kubangun dengan susah payah itu, harus runtuh seketika hanya karena ada seorang gadis rakus yang dalam otaknya hanya ada steak-steak-steak dan steak terus? Yang jika aku tidak memenuhi nafsu makannya, maka ia akan menendangku secara tidak berperikelaki-lakian? Dan apa kau tahu, bahwa betapa dilemanya diriku ini?” entah mengapa, semakin lama perkataan Yosuke terdengar semakin tidak terkontrol. Seperti seseorang yang sedang menumpahkan seluruh perasaannya yang mengganjal di hati… atau semacam itulah.

Dan setiap penuturan yang barusan Yosuke lontarkan, terdengar begitu geli dan menyebalkan di telinga Chie. Menyebabkan pria itu (Yosuke, sekali lagi) harus kembali merasakan sesuatu yang amat menyakitkan baginya.

Sudah terhitung tiga hari sejak kejadian itu, baik Yosuke maupun Chie, keduanya masih saling mendiamkan satu sama lain. Jangankan bertegur sapa, bahkan saling mendelik dan membuang muka saja tidak. Hal ini jelas tergolong sangat ganjil di mata Souji, Yukiko, Kanji, Rise, Naoto dan Teddie. Sebab pasangan yang hobi beradu mulut ini biasanya selalu bertengkar seru. Pasti selalu terdengar teriakan marah atau suara kaki yang dihentak-hentakkan dengan keras ke atas tanah. Sesekali juga ditambah dengan suara raungan pedih yang keluar dari pita suara milik Yosuke. Namun biasanya pada saat esok hari, semua kembali normal seperti biasanya. Ketika pagi saling menyapa, ketika sore saling bertengkar. Lalu keesokan paginya kembali saling menyapa, seolah tak pernah terjadi suatu pertengkaran di antara mereka. Itulah mengapa jika Yosuke dan Chie sedang bertengkar, biasanya tidak ada yang merasa khawatir, sebab biasanya ‘pasangan ribut’ ini selalu rujuk pada kesempatan berikutnya.

Namun peristiwa perang dingin antar dua kubu yang saling bersitegang ini betul-betul kejadian yang pertama kalinya dalam sejarah pertengkaran Yosuke melawan Chie. Atau Chie melawan Yosuke.

Yukiko berusaha mendekati dan bertanya pada Chie sementara Souji berusaha melakukan hal yang serupa pada Yosuke. Pada saat didekati, keduanya masih tampak bersemangat dan ceria seperti biasanya. Namun pada saat ditanya, keduanya sama-sama memasang wajah jelek. Ketika Yukiko dan Souji sama-sama melaporkan hasilnya, keduanya sama-sama mendesah pelan.


NGGAK BERES-BERES KARENA AUTHORNYA CACAT G*****!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s